Powered By Blogger

Kamis, 10 September 2015

Tuhan, aku patah hati...

Hidup adalah ketidakpastian, begitu pula soal perasaan. Tidak ada jaminan sebuah hubungan bisa bertahan selamanya. bahkan hubungan yang berlangsung lama pun bukan jaminan bahwa kalian kelak bersatu. Cinta adalah sesuatu yang rumit untuk dijelaskan dengan kata0kata, terasa indah saat keduanya saling membalas, namun terasa sangat menyakitkan saat salah satu memilih pergi dan menjauh. Entah karena masalah dengan kedua hati yang menjalasni cinta atau juga karena ada pihak lain yang mengganggu hubungan, yang pasti setiap hubungan akan menemukan kesulitannya masing-masing. Semua hubungan akan berakhr, entah itu berakhir pada kebahagiaan atau pun sebaliknya. ya, berakhir..berakhir dengan kehancuran. ini yang kini terjadi dan aku alami dalam hubungan cintaku. Selama 7 tahun aku menjalin kasih dengan seorang Pria, bukan Pria luar biasa, dia hanya Pria sederhana dengan cinta yang dulu kukira dahsyat. Selama 7 tahun kami menjalani semua emosi kehidupa. suka, duka, canda, tawa, tangis, marah, kesal, rindu, sakit, ketulusan, pengorbanan, kesabaran, amarah dan segala hal telah kami lalui, 7 tahun bukan waktu yang singkat, 7 tahun yang panjang dan menyimpan berjuta bahkan ratusan juta memori dalam otak, tidak ada hari yang terlewatkan tanpa komunikasi dengannya, tidak ada lagi sifat atau emosi yang disembunyikan darinya. Dia sudah seperti diriku, aku seperti dirinya, kami bahkan sudah menyatu secara emosi. Dia, diriku, aku, dirinya... Namun apalah daya Tuhan berkata lain dengan semua yang telah kami jalani. tak ada kata yg bisa menggambarkan betapa dalam kami telah masuk dalam hubungan cinta ini, hanya Tuhan yang tau kemana dan apa saja yang telah terjadi selama 7 tahun bersama, tapi semua kahirnya harus berakhir sia-sia, ya sia-sia. Kesia-siaan ini terjadi karena orangtuaku, ya orangtuaku tidak merestui hubungan kami. Mereka menganggap dia tidak pantas untukku, mereka menilai dia bukan pria yang baik untuukku, apapun yang kukatakan tentang dia, orangtuaku tetap tidak setuju. Bagi kedua orangtuaku, memilih dia berarti tidak dianggap anak, setegas itu ayahku mengatakannya padaku pada malam itu. Sedikit bercerita ke bellakang, selama 7 tahun kami menjalin hubngan, kami memang menjalaninya secara sembunyi-sembunyi, hanya kami dan Tuhan yang tahu hubungan ini, apapun yang kami kerjakan dan kemanapun kami pergi semua kami lakukan secara diam-diam, ya selama 7 tahun kami sudah sangat pintar berbohong :( Hal inilah yang kurenungkan di satu tahun terakhir hubungan kami, tak bisa selamanya kami bersembunyi dalam hubungan yang terus disembunyikan, sampai pada suatu waktu aku memutuskan hubungan yang kupikir tidak ada kejelasan ini, aku lelah terus berbohong setiap kali kami akan pergi bersama, aku lelah dengan semua alasan-alasan yang kubuat saat akan keluar rumah. Kuputuskan hubungan kami dan memilih untuk berkomitmen saja dalm doa dan perjuangan masing-masing, dia kuliah sambil bekerja dan aku terus berdoa agar suatu saat hati kedua orangtuaku terbuka untuk menerima dia. waktu berjalan dengan cepat, setiap tahun kami merayakan ulangtahun salah satu dari kami hanya berdua saja, hingga saat aku berulangtahun ke-25 kutegaskan padanya bahwa ulangtahun ke 26 aku tidak mau sembunyi-sembunyi lagi, disanalan kita tahu bagaimana sikap kedua orangtuaku, entah bisa atau tidak menerimamu. Singkat cerita, di awal tahun 2015 hubungan kami semakin meruncing dan semakin menjauh, aku semakin ragu karna tidak melihat ada tanda-tanda jawaban doaku ttg orangtuaku, aku semakin sering menuntut dia untuk datang kerumah agar semua makin jelas tanpa memikirkan konsekuensi perasaanku sendiri. singkat cerita, 14 Agustus 2015 yang lalu ake genap berusia 26 tahun. hari itu dia sama sekali tidak menunjukkan itikad untuk datang kerumahku seperti yang aku minta satu tahun lalu. Namun tanpa kuduga, tanggal 17 Agustus 2015 pkl. 20:20 dia beserta kedua temanku datang kerumah dengan alih-alih untuk merayakn ualngtahunku. Saat melihatnya di depan pintu sambil membawa kue, yang terasa bukan bahagia tapi hati yang mendadak gemetar, pikiran langsung tertuju pada kedua orangtuaku yang saat itu juga ada dirumah, dan benar saja apa yang kutakutkan pun terjadi, sepanjang dia dirumah, kedua orangtuaku sama sekali tidak menyapa dan memilih untuk berada dikamar. yah, singkatnya malam itu jadi malam terakhir kisah kami. To be continue..........

Tidak ada komentar:

Posting Komentar